MANUSIAWI
Bicara soal
cita-cita, jika ditanya apa cita-citamu? Mungkin untuk pertanyaan yang satu ini
saya harus berfikir lebih mendalam. Kok bisa? Mungkin sebagian orang heran,
ketika seseorang sudah memutuskan masuk di universitas dengan mengambil jurusan
yang diinginkannya ya otomatis satu langkah sudah terlewati untuk menggapai
cita-cita mereka. Saya pribadi jujur, mengambil jurusan yang sekarang (S-1
Pendidikan Guru Sekolah Dasar) sekitar 80% dorongan orang tua dan 20% keinginan
pribadi. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana jadinya. Ketika kehendak orang tua
sudah tidak dapat di negosiasi hal
yang dapat kita tempuh adalah mengikuti apa kata orang tua, karena kita tahu
bahwa jika orang tua merestui tentu saja Allah pasti meridhoi.
Kurang
lebih 3 semester sudah ditempuh, dan
hasilnya? Alhamdulillah IPK selalu bisa dikatakan baik, lantas apa masalahnya?
Masalahnya adalah ketika gelar seorang “Guru” itu sudah melekat dalam diri
saya, jujur saja ini terlalu berat, sudah 5 bulan saya mengajar di salah satu
Madrasah, bertemu dengan anak-anak dengan segala macam karakter dan sifat kekanakan mereka, bertemu dengan teman
kerja baru, menyatukan dua isi kepala yang berbeda menjadi satu pemikiran yang
sama itu sulit, awalnya semua itu saya anggap bagian dari sebuah proses, saya
nikmati setiap perubahannya, satu bulan, dua bulan,tiga bulan, sampai pada
titik dimana saya sangat jenuh dengan semua ini; sekarang. Mungkin orang
berfikir wajar bila seseorang mengalami masa dimana mereka jenuh dengan segala
aktifitas keseharian mereka, tapi apa baik jika terus menerus dipaksakan?
Belum mempunyai
keberanian jujur bicara dengan orang tua bahwa saya kurang begitu menikmati di
posisi saya yang sekarang, tak ingin membuat orang tua kecewa, ini cita-cita
mereka, apakah saya harus mementingkan ego sendiri dari pada keinginan
orang tua? Tentu saja saya tidak ingin
menjadi si malin kundang versi modern yang sama durhakanya. Begitu sulit memang
melawan rasa seperti ini. Disatu sisi saya berfikir masa depan saya ada
ditangan saya sendiri,bukan orang tua, tapi disatu sisi lain saya begitu
menyayangi kedua orang tua saya, ingin rasanya berdiri gagah didepan mereka ketika
sah menjadi sarjana pendidikan nanti, memberikan pelukan dan rasa terimakasih
saya kepada mereka yang sudah berjuang untuk saya. Bangga sekali rasanya.
Lantas apa
yang saya inginkan?
Menjadi
guru itu berat, guru; digugu di tiru. Ketika saya salah melangkah, apakah anak
murid saya pun mengikuti? Itu sudah pasti bukan? Ketika saya keliru
menyampaikan ilmu, apakah mereka akan menuntut saya di akhirat kelak?
“Orang bilang menjadi guru itu ladang
pahala”
Ladang
pahala memang, ketika apa yang kita sampaikan mereka serap dan amalkan di
kehidupan mereka, saat ini atau dikehidupan mereka berikutnya. Tapi jika kita
keliru? Jika kita salah menyampaikan ilmu kepada mereka, mereka ingat sampai
mereka dewasa, apakah saya tidak berdosa seumur hidup saya telah menyampaikan
ilmu yang salah itu? Tidak semua guru itu bisa segalanya.
Day 1 :
Sunday 16 March 2014
Benar saja
ketika waktu kami santap makan bersama ( saya dan mamah) sambil diselingi
sedikit percakapan-percakapan yang mengarah pada hal yang selama ini mengganggu
fikiran saya, seolah bom waktu itu telah habis waktunya saat itu tiba untuk meledak.
Emosi beliau sudah diujung ubun-ubun, sambil menggebrak tutup saji meja makan itu seraya berbicara dengan nada
tinggi.
Tak sempat
berucap, nyatanya air mata jatuh lebih dulu sebelum saya perintahkan, rasanya
pilu sekali ketika ingin bercerita apa yang selama ini jadi uneg-uneg dalam fikiran, tapi beliau
hanya menjawab “susah emang punya orang
tua bodo mah”
Bukan
maksud hati ingin seperti itu, selain pada beliau harus dengan siapa lagi saya
bercerita?
Day 2 :
Monday 17 March 2014
Sudah senin
lagi, rasa malas ini lebih besar ketimbang ingat perjuangan orang tua, malas
untuk menjalankan aktifitas kembali, terlebih lagi setelah masalah malam hari
kemarin.
Bukannya
fokus pada pekerjaan, nyatanya saya hanya memikirkan bagaimana caranya menikmati
pekerjaan saya, menjadi pengajar yang professional menjalankan tugasnya, ilmu
sampai pada anak didik saya, tanpa harus terbebani cita-cita saya yang lain.
Lelah…
Mungkin
hanya itu yang ada dalam fikiran saya, berharap mendapatkan jalan keluar tetapi
malah membuat persoalan tak kelar-kelar.
Malam hari
menjelang tidur, ketika memandang langit-langit kamar, seolah terbawa dalam
emosi yang sangat dalam, air mata pun menetes, tak kuasa membayangkan betapa
besar perjuangan orang tua saya selama ini, terlebih lagi untuk saya. Ingat
betapa berdosanya saya jika harus mengecewakan mereka, betapa bersalahnya saya
ketita harus mematahkan cita-cita mereka.
Pada
Akhirnya?
Saya sadar,
saya harus mengalah.
Day 3 :
Tuesday 18 March 2014
Sadar,
bahwa saya harus mengalah, sedikit demi sedikit harus semakin dinikmati,
kasarnya; pahit manis tanggung sendiri.
Tiga hari yang
memberikan banyak pelajaran yang berharga
Belajar
mencintai profesi tanpa meninggalkan hobi
Membuat orang
tua bahagia tanpa harus durhaka
Menekuni profesi
mencintai hobi
Hobi bukan
profesi melainkan perwujudan ekspresi
Jalani dan
nikmati
Selama darah
seni masih mengalir
Selama tanggung
jawab masih terukir
semua orang bisa menjalani keduanya selama
mau berusaha
dengan restu
orang tua tentunya
mah..pa..
I love you..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pages
viewers
Diberdayakan oleh Blogger.
Popular Posts
-
Bicara soal cita-cita, jika ditanya apa cita-citamu? Mungkin untuk pertanyaan yang satu ini saya harus berfikir lebih mendalam. Kok bisa? M...
-
SEWINDU Sudah sewindu ku didekatmu.. Ada disetiap pagi disepanjang harimu.. Tak mungkin bila engkau tak tahu bila ku menyimpan ras...
-
Seiring dengan keinginan kecil yang tak berujung, disela-sela nafas yang tak akan pernah berhenti sampai yang maha pemberi kehendak men...
-
Entah dari mana aku harus memulai, yang harus kau tahu tulisan ini kutulis dari relung hati yang sengaja aku siapkan untukmu. MENGAG...
-
KENAPA SIH MASIH DIPERTAHANKAN? Jaka dan esih sudah berpacaran selama 5 tahun 12 bulan, dalam rentan waktu yang lama itu jaka dan esih...
-
DIBATAS BAYANG SEMU Tuhan ciptakan engkau dalam rupa yang sempurna; menurutku. Entah karena aku menilaimu dari ketidaksempurnaanku. ...
-
Tuan apakah kau tahu betapa tersiksanya aku kini dilanda rindu? Aku tidak menge...
-
LAGI BINGUNG YA MAU KULIAH JURUSAN APA? Well hal ini emang udah jadi hal lumrah buat anak SMA kelas 12 yang se...
-
“ waktu kecil dulu mereka mentertawakan, mereka memanggilku gajah” Beberapa bait lagu Tulus yang berjudul “GAJAH” Hai.. Masa ke...
-
hi :)) PUNYA ANAK MURID LUCU-LUCU ITU MENYENANGKAN. Awalnya ditawarin ngajar anak SD dalam kondisi masih kuliah itu jujur belu...
Followers
Tentang Saya
- Unknown
0 komentar:
Posting Komentar